I. SEJARAH DESA KENALAN

Sejarah desa Kenalan secara umum dapat diperoleh melalui cerita turun temurun yang telah melegenda hingga kini, dengan alur cerita adalah sebagai berikut:

Ketika itu tempat dimana yang kemudian dikenal dengan sebutan desa kenalan, adalah merupakan hamparan hutan lindung yang tak berpenghuni. Suatu ketika tepatnya sekitar tahun 1843 datanglah satu rombongan orang yang terdiri Kyai Daka, Kyai Nala, Kyai Singa dan Kyai Wira untuk bersembunyi dari incaran penjajah atas keberanian mereka mengadakan perlawanan di daerahnya. Dalam persembunyian tersebut mereka terus melakukan perbaikan dilingkungan tempat tinggalnya, dan mengangkat Kyai Nala sebagai pemimpin atas mereka. Dalam menjalankan roda pemerintahanya Kyai Nala banyak dibantu oleh Kyai Singa yang memiliki pengetahuan yang lebih dari pada orang lain yang ada pada waktu itu, meskipun demikian saat itu belum ada aturan dan norma yang jelas untuk mengatur kehidupan masyarakat, sehingga tidak heran kalau masyarakat pada waktu itu masih hidup dengan budayanya masing-masing.

Seiring dengan perjalanan waktu dimana jumlah penduduk juga meningkat maka Kyai Daka, Kyai Singa Dan Kyai Wira mohon kepada Kyai Nala agar berkenan untuk mengijinkan mereka membangun pemukiman yang lokasinya tidak jauh dari tempat itu, Kyai Nala pun setuju dengan usul tersebut sehingga merekapun meneruskan niat masing-masing yaitu Kyai Daka Bermukim di bagian paling utara yang kemudian tempat itu dikenal dengan nama dusun Kedakan yang dimana makam Kyai Daka juga masih terawat hingga sekarang, sementara Kyai Singa bermukim diantara Kediaman Kyai Nala dan Kyai Daka yang nantinya nama Kyai Singapun dipakai untuk sebutan dusun Kesingan sementara Kyai Wira yang memilih tempat di sebelah selatan namanya juga diabadikan oleh penduduk setempat bagi nama dusun tersebut. Kurang lebih 40 tahun kemudian Kyai Nala yang tidak dikaruniai keturunan itu suatu hari jatuh sakit. Mendengar berita tersebut keluarga bermaksud membawa pulang Kyai Nala ke kampong halaman dimana beliau dilahirkan, namun sayang baru sampai di dusun Jambe Wangi Kyai Nala menghembuskan nafasnya yang terakhir dan akhirnya dikebumikan di desa tersebut. Sebagai penghargaan kepada beliau atas jasa yang telah dilakukan akhirnya para orang tua pada waktu itu memberi nama tempat yang mereka huni sebagai desa Kenalan yang artinya adalah peninggalan Kyai Nala.

II.SEJARAH PEMBANGUNAN

Atas anjuran ndara Seten Pakis yang menjabat saat itu, pada tahun 1913 Desa Kenalan mulai menata diri dengan ditunjuknya mbah Lasiah sebagai Kades yang merupakan cucu dari Kyai Singa. Hal yang dilakukan mbah Lasiah sebagai Kades pada watu itu adalah dengan membuka jalan penghubung baik antar dusun maupun jalan poros Desa, disamping itu juga menata pemukiman dan masyarakat mulai mengenal kegiatan pertanian walau masih sangat sederhana seperti menanam midro, kimpul, ubi jalar dan jagung. Masa pemerintahan mbah Lasiah sebagai Kades berkisar antara tahun 1913-1922 dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya antara tahun 1923-1942, namun sayang beliau meninggal dalam usia yang masih sangat muda dan kepala pemerintahan diteruskan oleh mbah Kastari dari Kedakan. Kemudian antara tahun 1943-1945 kepala desa Kenalan menunjuk dari luar desa yaitu bapak Ganjar dari dusun Pogalan Desa Kaponan sebagai kades yang ke IV. Kepala Desa Ke V adalah Bapak Joyodiharjo yang memerintah antara tahun 1946-1960

Pada tahun 1961 demokrasi mulai masuk ke desa kenalan yang ditandai dengan pemilihan kepala desa yang I, yaitu bapak Sudarmono melawan bumbung kosong dan dimenangkan oleh bapak Sudarmono.

Pada masa pemerintahan bapak Sudarmono barulah muncul pembangunan-pembangunan fisik maupun nonfisik yang menjadi tumpuan perkembangan dan kemajuan desa kenalan secara umum, disamping itu pada masa pemerintahan beliau juga pernah terjadi kematian masal yang diakibatkan oleh penyakit endemic, dalam daftar dihalaman berikutnya disajikan beberapa hal sebagai kurang dan lebihnya masa pemerintahan bapak Sudarmono sebagai kades juga kepala desa setelah era kepemimpinan beliau.

1913-1922 Lasiah (Kedakan)

1923-1942 Anak Mbah Lasiah Meninggal Muda- dilanjut Mbah Kastari (Kedakan)

1943-1945 Ganjar (Pogalan A, Desa kaponan)

1946-1960 Joyodiharjo (Kenalan)

61-89 Sudarmono (Kenalan)

89 -94 Subari (Kesingan)

94-99 Pj. Murpujianta (Tegalrejo)

99-2007 Sudiono (Kenalan)

2007-2013 Sudiono (Kenalan)

2013-2019 Dwi Dayanti (Kenalan)